Tuan Guru, Sosok Besar Penanda Ingatan Indonesia di Afrika Selatan

By Abdi Satria


nusakini.com-Cape Town- “Peluncuran buku ini memiliki arti penting tidak hanya untuk Afrika Selatan, tetapi juga untuk Indonesia. Secara tidak langsung, buku ini adalah manifestasi nyata dari hubungan sejarah yang kuat antara kedua negara. Saya berharap pustaka ini akan semakin memperkaya ingatan publik atas pentingnya hubungan antara Indonesia dan Afrika Selatan”, demikian disampaikan Dubes RI di Pretoria pada saat peluncuran buku “From the Spice Islands to Cape Town: The Life and Times of Tuan Guru”, akhir pekan lalu. 

Dubes Salman Al Farisi menghadiri acara peluncuran buku dimaksud atas undangan Lembaga Waqaf Afrika Selatan, AWQAF SA. Sebagai Lembaga wakaf nasional Afsel yang berupaya untuk memberdayakan umat, penerbitan buku ini adalah bagian dari proyek the Awqaf’s Leaders and Legacies Project yang bertujuan merawat ingatan atas tokoh-tokoh besar pemimpin umat. 

Tuan Guru, sosok yang diabadikan dalam buku ini adalah ulama keturunan Indonesia yang mendakwahkan Islam di Afrika Selatan. Tuan Guru lahir di Tidore pada tahun 1712, dan meninggal di Cape Town pada tahun 1807 dalam usia 95 tahun. 

Beliau tiba di Cape Town dengan kapal VOC , Zeepard, pada tahun 1780 ketika berusia 68 tahun. Belanda mengirimnya ke Cape Town untuk menghalangi interaksinya dengan Inggris, musuh bebuyutan Belanda pada era kolonialisme. 

Dalam pengasingannya, Tuan Guru mendirikan madrasah pertama di Afsel pada tahun 1793, dan tak lama setelah itu, membangun masjid pertama di Afrika Selatan, “Masjid ul-Awwal ”. Tuan Guru yang seorang Hafiz Quran, menuliskan kembali Al Quran dari hafalannya saat dipenjara di Pulau Robben selama dua kali. Ulama besar ini juga menulis karya lain "Ma'rifat wal Iman wal Islam" (Pengetahuan Iman dan Agama) setebal 613 halaman, yang menjadi panduan Muslim di Cape Town untuk belajar Islam. 

Tuan Guru sangat dihormati sebagai sosok besar di Afrika Selatan. Tidak hanya beliau, para Pendatang Muslim telah menjadi bagian dari perjuangan nasional Afrika Selatan dari belenggu kolonialisme. Nama-nama terhormat tahanan politik kolonialisme seperti Tuan Guru, Syekh Yusuf, Hadjie Matarim, dan lainnya menjadi simbol perjuangan melawan kesewenang-wenangan Belanda dan Inggris . 

Dubes Salman Al Farisi menyampaikan selamat kepada penulis buku yang telah secara artikulatif menyelami kembali hidup dan kontribusi Tuan Guru bagi Afrika Selatan. Dubes RI meyakini bahwa buku ini akan memperkaya pengetahuan kedua bangsa. 

Penulis buku Shafiq Morton adalah seorang jurnalis foto, editor, dan presenter radio/TV yang telah memiliki pengalaman puluhan tahun dan memenangkan berbagai penghargaan. Penulis sebelumnya telah meliput berbagai topik seperti kampanye anti-apartheid, pembebasan Nelson Mandela, dan pemilihan umum Afsel 1994. Tahun 2008, Morton memenangkan Penghargaan Vodacom National Award dpada kategori media komunitas dan penghargaan regional pada tahun 2010. Karya-karya penulis sebelumnya termasuk Notebooks from Makkah and Madinah (a Saudi Arabian travelogue), Surfing behind the Wall, My Palestinian Journey, dan A Mercy to All. 

KBRI Pretoria dan KJRI Cape Town mendukung penuh pelaksanaan kegiatan peluncuran buku “From the Spice Islands to Cape Town: The Life and Times of Tuan Guru”. Kegiatan dimaksud semakin menyemarakkan rangkaian kegiatan peringatan 25 tahun hubungan diplomatik RI-Afrika Selatan sepanjang tahun 2019.(p/ab)